Emansipasi? Mari bertemu dengan monolog Putri

Nama saya Putri.

Gadis 16 tahun yang lahir disebuah rumah sakit besar di tengah kota.

Tumbuh dewasa tanpa kasih sayang seorang ayah.
Berjalan berdua bersama ibunda melewati kejamnya dunia.

Memang atau mungkin, banyak insan yang merasa iba kepada kami, banyak insan yang suka merendahkan kami, dan bahkan, juga banyak insan yang merasa bahwa mereka tidak sederajat dengan kami.

Lantas apakah saya harus peduli? Saya tidak bisa memilih untuk lahir menjadi anak siapa, saya tidak bisa memilih untuk menjadi keturunan dari keluarga yang bermarga apa, dan saya juga tidak bisa memilih bagaimana alur hidup saya.

Dibilang kecewa, dengan kerasa saya akan mengatakan bahwa saya tidak kecewa. Justru saya merasa bangga, sangat sangat bangga, bisa lahir dari rahim seorang wanita hebat yang mampu bertahan di tengah tengah stigma masyarakat tentang anak perempuan yang tidak berbapak itu, tidak akan bisa sukses.

Heh, sungguh, dunia ini penuh lelucon, kaum goodloking, dan good material selalu dibela, selalu dipandang tinggi, dan selalu diagung agungkan, padahal kita semua sama sama ciptaan Tuhan. Wanita tak berdaya dilecehkan, diperkosa bahkan diperbudak, menodai jerih payah ra kartini yang memperjuangkan emansipasi.

Kita sebagai generasi muda bisa apa? Omongan anak kecil seperti kita dianggap sebelah mata, dipandang remeh bahkan tidak didengarkan. Lalu apa kita harus berdiam diri saja? Membiarkan semakin banyak wanita wanita baru yang terenggut hak asasinya? Hanya orang orang bodoh yang akan melakukannya. Jika aksimu tak di gubris, maka pemikiranmu harus lebih kritis.

Dengan itu, saya harap tidak akan ada lagi putri putri lain yang berkubang dalam pendiskriminasian, tidak ada putri putri lain yang harus merangkul pojokan ruang hampa, dan tidak ada putri putri lain yang harus bertarung sendirian demi memperjuangkan hak asasi yang sebenarnya sudah melekat pada dirinya.

Pasuruan, 20 Juni 2021
Putri Nabila S.

Komentar